Sosiolog UI Sebut Larangan Bercadar dan Celana Cingkrang Sebagai Kebijakan Konyol

Tamrin Tomagola mengkritik wacana pelarangan celana cinkrang dan cadar di lingkungan Aparatur Sipil Negara (ASN) yang dilontarkan Menteri Agama.

Sosiolog UI Sebut Larangan Bercadar dan Celana Cingkrang Sebagai Kebijakan Konyol
Tribunnews.com/ Mafani Fidesya Hutauruk
Sosiolog Universitas Indonesia, Tamrin Tomagola, di Hotel Erian, Menteng, Jakarta Pusat, Minggu (3/11/2019). 

Laporan Wartawan Tribunnews.com, Gita Irawan

TRIBUNNEWS.COM, JAKARTA - Sosiolog Universitas Indonesia Tamrin Tomagola mengkritik wacana pelarangan celana cinkrang dan cadar di lingkungan Aparatur Sipil Negara (ASN) yang dilontarkan Menteri Agama Fachrul Razi.

Ia menilai wacana tersebut sebagai kebijakan konyol.

"Yang saya lihat pemerintah ketakutan, sampai membuat kebijakan tidak boleh bercelana cingkrang, ngapain itu. Menurut saya itu kebijakan konyol," kata Tamrin Tomagola saat diskusi di kawasan Cipete Jakarta Selatan pada Minggu (10/11/2019).

Menurutnya, pemerintah justru harus menyiapkan strategi menangkal radikalisme dari wilayah pendidikan.

Baca: Haidar Alwi Minta Polemik Pelarangan Cadar dan Celana Cingkrang Dihentikan

Karena menurutnya, langkah tersebut merupakan langkah yang lebih bermanfaat dibandingkan dengan melontarkan wacana perlawanan terhadap radikalisme lewat pengaturan pakaian.

"Yang paling dasar adalah bagaimana pemerintah menyiapkan strategi untuk menangkal radikalisme dari kelompok-kelompok khilafah ini yang menyebarkan paham khilafah, lewat Pendidikan Anak Usia Dini, Sekolah Dasar, Sekolah Menengah Pertama. Itu sebenarnya yang lebih substansif. Itu yang harus dihadapi secara terencana dan terarah. Bukan pakain orang diatur-atur gitu," kata Tamrin.

Sebelumnya, Tamrin juga sempat menjelaskan perbedaan makna antara radikal dan radikalisme.

Menurutnya, berpikir radikal, berarti berpikir tentang penyelesaian akar masalah.

Baca: Haidar Alwi: Prabowo Harus Lanjutkan Program Bela Negara Ryamizard Ryacudu

"Tapi kalau radikalisme adalah kecenderungan untuk menyelesaikan segala sesuatu secara ekstrem. Padahal masalah dalam kehidupan ini tidak bisa selalu diselesaikan secara keras, ekstrem, ada masalah yang bisa diselesaikan lewat cara cara halus, dialog. Ada masalah masalah yang harus diselesaikan dengan cara moderat yang di tengah. Dan ada sedikit masalah dan memang harus diselesaikan secara radikal," jelas Tamrin.

Halaman
1234
Penulis: Gita Irawan
Editor: Adi Suhendi
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved