Ramah Lingkungan, Indonesia Masuk Peringkat 36 Penerapan Prinsip ESG
Indonesia menempati posisi ke-36 dari 47 pasar modal global dalam indeks ESG, menunjukkan adanya ruang besar untuk perbaikan.
TRIBUNNEWS.COM, JAKARTA - Penerapan prinsip Environmental, Social, and Governance (ESG) di Indonesia menunjukkan tren pertumbuhan yang menjanjikan.
Dalam beberapa tahun terakhir, semakin banyak perusahaan dan investor memahami pentingnya keberlanjutan sebagai fondasi pertumbuhan bisnis jangka panjang.
ESG kini tak lagi dipandang sebagai tren, melainkan kebutuhan strategis yang menentukan daya saing, terutama bagi brand lokal.
Survei yang dilakukan oleh PricewaterhouseCoopers (PwC) pada 2023 mencatat bahwa 80 persen konsumen Indonesia bersedia membayar lebih untuk produk dari brand yang berkomitmen terhadap keberlanjutan dan tanggung jawab sosial.
Dalam laporan terbaru Snapcart 2024 bertajuk Indonesian Consumers’ Interest Toward Sustainable Products, sebanyak 38 persen konsumen mengaku memilih produk ramah lingkungan karena kepedulian terhadap isu lingkungan.
Produk yang awet, aman digunakan, dan berasal dari sumber etis juga menjadi alasan konsumen bersedia mengeluarkan lebih banyak uang untuk berbelanja.
Survei lainnya dari Indonesian Marketing Association (IMA) pada 2022 juga mengungkapkan bahwa 75% konsumen lebih mempercayai brand yang transparan dalam menerapkan prinsip ESG.
Keterbukaan ini tak hanya menciptakan kepercayaan, tetapi juga membangun loyalitas pelanggan dalam jangka panjang.
Meski kesadaran meningkat, implementasi ESG di Indonesia masih menghadapi tantangan.
Indonesia menempati posisi ke-36 dari 47 pasar modal global dalam indeks ESG, menunjukkan adanya ruang besar untuk perbaikan.
Menurut studi Indonesia Business Council for Sustainable Development, sekitar 40% perusahaan di Indonesia belum memahami sepenuhnya prinsip ESG.
Sementara itu, 60% emiten kesulitan menetapkan indikator kinerja yang relevan. Kurangnya akses pendanaan, terbatasnya pemahaman, serta tantangan dalam menjaga efisiensi operasional juga menjadi hambatan utama.
Meski dihadapkan pada berbagai tantangan, sejumlah brand lokal telah memulai langkah berani untuk mengadopsi ESG dalam operasional mereka.
Di penghujung 2024, tim Luxcrime turut membersihkan 550 kg sampah plastik dari pesisir Bengkong, Batam, serta mengunjungi fasilitas daur ulang sampah untuk memahami prosesnya secara langsung.
"Kami percaya bahwa kecantikan tidak hanya soal penampilan, tetapi juga tentang tanggung jawab terhadap lingkungan," ujar Melisa Andriani, General Manager Luxcrime melalui keterangan tertulis, Rabu (23/4/2025).
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/tribunnews/foto/bank/originals/Ilustrasi-perajin-batik-lokal-11.jpg)