Jumat, 15 Mei 2026

Borneo Orangutan Survival Foundation: Komunikasi Kemenhut Makin Terbuka dan Kolaboratif

CEO BOSF Jamartin Sihite menilai pemerintah menunjukkan perubahan signifikan dalam pola komunikasi dan koordinasi yang lebih baik.

Tayang: | Diperbarui:
Penulis: Reza Deni
Editor: Wahyu Aji
HO/IST
CEO Borneo Orangutan Survival Foundation (BOSF) Jamartin Sihite. Dirinya menilai pemerintah menunjukkan perubahan signifikan dalam pola komunikasi dan koordinasi yang lebih baik. 

Ringkasan Berita:
  • BOSF, organisasi konservasi orangutan terbesar di Kalimantan, menjalankan berbagai program penyelamatan, rehabilitasi, dan pelepasliaran satwa, serta berkolaborasi dengan pemerintah.
  • CEO BOSF Jamartin Sihite menilai Kementerian Kehutanan menunjukkan peningkatan signifikan.
  • Jamartin mendorong penguatan kolaborasi dan peningkatan perhatian terhadap kesejahteraan satwa liar.

 

TRIBUNNEWS.COM, JAKARTA - CEO Borneo Orangutan Survival Foundation (BOSF) Jamartin Sihite menilai pemerintah menunjukkan perubahan signifikan dalam pola komunikasi dan koordinasi sepanjang satu tahun terakhir. 

BOSF adalah organisasi nirlaba yang berfokus pada upaya konservasi orangutan dan pelestarian habitatnya di Pulau Kalimantan.

Didirikan pada tahun 1991, BOSF menjalankan berbagai program penyelamatan, rehabilitasi, dan pelepasliaran orangutan ke kawasan hutan yang aman dan terlindungi.

Melalui pusat rehabilitasi di Nyaru Menteng (Kalimantan Tengah) dan Samboja Lestari (Kalimantan Timur), BOSF menjadi salah satu lembaga terbesar di dunia dalam upaya penyelamatan orangutan.

Selain rehabilitasi satwa, BOSF juga bekerja sama dengan pemerintah, masyarakat lokal, dan mitra internasional untuk mendorong kebijakan konservasi jangka panjang.

Program-program BOSF mencakup perlindungan hutan, restorasi habitat, pemberdayaan masyarakat, hingga edukasi publik mengenai pentingnya menjaga keberlanjutan ekosistem.

Tujuan akhirnya adalah memastikan kelestarian orangutan sebagai spesies kunci dan menjaga keseimbangan lingkungan di Kalimantan.

Menurutnya, peningkatan keterbukaan dan dialog intensif telah menciptakan ruang diskusi yang lebih terarah, khususnya dalam isu-isu strategis konservasi.

Dia menyebut langkah tersebut memperkuat landasan kolaboratif antara pemerintah dan para mitra.

“Keterbukaan yang meningkat, kesediaan berdialog dengan lebih intensif, telah membuka dan menciptakan ruang diskusi yang lebih terarah dan produktif,” kata Jamartin saat dihubungi wartawan, Jumat (12/12/2025). 

Pendekatan yang lebih inklusif, kata Jamartin, mendorong terciptanya pemahaman bersama serta penyelarasan upaya di tingkat kebijakan dan operasional. Ia berharap semangat kolaborasi ini terus diperkuat untuk mewujudkan perlindungan hutan jangka panjang dan pengelolaan lanskap yang berkelanjutan.

Jamartin juga menekankan pentingnya peningkatan perhatian terhadap kesejahteraan satwa liar, terutama orangutan sebagai spesies kunci konservasi.

“Hal ini memerlukan kebijakan yang lebih terukur, pengawasan yang konsisten serta implementasi lapangan yang efektif,” jelasnya.

Mengakhiri pernyataannya, Jamartin optimistis momentum positif saat ini dapat menghasilkan perubahan nyata. 

“Kami meyakini bahwa komitmen bersama pasti dapat menghasilkan perubahan nyata, demi masa depan Indonesia dan keberlangsungan seluruh kehidupan yang bergantung pada kelestariannya,” tutupnya. (*)

Sumber: Tribunnews.com
Rekomendasi untuk Anda

Berita Terkini

© 2026 TribunNews.com, a subsidiary of KG Media. All Right Reserved