Iran Vs Amerika Memanas
5 Dampak Perang di Timur Tengah Menurut Sekjen Gelora Mahfuz Sidik
Mahfuz secara tegas menyebut bahwa eskalasi yang terjadi saat ini di Timur Tengah sudah masuk dalam kategori perang secara nyata.
Ringkasan Berita:
- Mahfuz Sidik menyoroti situasi konflik bersenjata yang kian memanas antara Israel, Amerika Serikat (AS), dan Iran.
- Eskalasi yang terjadi saat ini di Timur Tengah sudah masuk dalam kategori perang secara nyata.
- Untuk itu, Mahfuz mewanti-wanti semua pihak akan bahaya dari situasi tersebut.
TRIBUNNEWS.COM, JAKARTA - Sekretaris Jenderal (Sekjen) Partai Gelora Indonesia, Mahfuz Sidik menyoroti situasi konflik bersenjata yang kian memanas antara Israel, Amerika Serikat (AS), dan Iran belakangan ini.
Mahfuz secara tegas menyebut bahwa eskalasi yang terjadi saat ini di Timur Tengah sudah masuk dalam kategori perang secara nyata.
Meskipun, kata Mahfuz, pihak Israel dan AS menyebutnya sebagai serangan militer pencegahan (pre-emptive), sementara pihak Iran menganggapnya sebagai serangan militer pembalasan (retaliation).
Ia mengungkapkan, tewasnya pemimpin tertinggi Iran, Ayatollah Ali Khamenei beserta sejumlah pimpinan terasnya, ternyata tidak menyurutkan langkah pembalasan dari militer Iran.
"Bahkan sasarannya meluas ke basis militer Amerika Serikat di sejumlah negara Teluk," kata Mahfuz Sidik, Selasa (3/3/2026).
Mahfuz yang juga Ketua Komisi I DPR RI periode 2010-2017 ini meyakini bahwa saat ini Iran tengah menyiapkan rencana operasi serangan pembalasan yang berlarut.
Hal ini menyusul dua kali serangan militer dari Israel dan Amerika Serikat yang dinilai tidak berhasil melumpuhkan kekuatan militer negara para Mullah tersebut.
Untuk itu, Mahfuz mewanti-wanti semua pihak akan bahaya dari situasi tersebut.
Mantan politisi PKS ini membeberkan setidaknya ada lima dampak besar dan sangat serius jika perang di Timur Tengah ini terus berlarut-larut.
Pertama, Kekacauan Politik di Timur Tengah
Mahfuz menjelaskan, sejumlah negara Teluk yang menjadi basis militer AS akan terjebak pada dilema dalam menyikapi serangan pembalasan Iran.
"Jika negara seperti Saudi Arabia, Uni Emirat Arab, Qatar, Bahrain dan Kuwait membentuk front bersama Israel dan AS untuk menghadapi Iran, ada resiko domestik penolakan dari warganya. Ini berpotensi memicu kekacauan politik domestik," terangnya.
Kedua, Raibnya Perimbangan Militer di Kawasan
Jika kekuatan militer Iran berhasil dihancurkan, maka Israel akan menjadi satu-satunya kekuatan militer dominan di kawasan tersebut.
Mahfuz mengingatkan kembali serangan rudal Israel ke Qatar untuk menyasar delegasi HAMAS beberapa waktu lalu, yang menjadi mimpi buruk bagi negara-negara Arab, ditambah lagi militer AS yang kini telah mengepung seluruh kawasan.
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/tribunnews/foto/bank/originals/Potret-Pemimpin-Tertinggi-Iran-Ayatullah-Ali-Khamenei-di-kediaman-Dubes-Iran-di-Menteng-Jakarta.jpg)