Program Makan Bergizi Gratis
Program MBG Disorot, Pakar Sebut Kasus Keracunan Siswa Jadi Alarm Kesehatan
Program yang digagas untuk meningkatkan kualitas gizi anak sekolah mendapat perhatian dari kalangan kesehatan masyarakat.
Ringkasan Berita:
- Program Makan Bergizi Gratis (MBG) mendapat perhatian dari kalangan kesehatan masyarakat karena dinilai penting untuk meningkatkan kualitas gizi anak sekolah.
- Pengamat kebijakan kesehatan sekaligus dokter epidemiologi, Dicky Budiman, menilai program ini memiliki tujuan strategis bagi kesehatan anak dan ketahanan pangan keluarga.
- Menurutnya, kebijakan tersebut dapat membantu meningkatkan asupan nutrisi anak sekaligus mendukung keluarga dengan keterbatasan ekonomi.
Laporan Wartawan Tribunnews.com, Aisyah Nursyamsi
TRIBUNNEWS.COM, JAKARTA – Program Makan Bergizi Gratis (MBG) yang digagas untuk meningkatkan kualitas gizi anak sekolah mendapat perhatian dari kalangan kesehatan masyarakat.
Meski dinilai sebagai langkah penting untuk memperbaiki status gizi anak, pelaksanaan program ini juga dinilai perlu pengawasan ketat agar tidak menimbulkan risiko kesehatan.
Pengamat kebijakan kesehatan sekaligus dokter epidemiologi kesehatan lingkungan, Dicky Budiman, mengatakan program MBG merupakan kebijakan yang memiliki tujuan penting bagi kesehatan anak dan ketahanan pangan keluarga.
Menurutnya, kebijakan tersebut dapat membantu meningkatkan asupan nutrisi anak sekaligus mendukung keluarga yang memiliki keterbatasan ekonomi.
Namun ia menegaskan bahwa kebijakan publik tetap perlu dikritisi agar dapat terus diperbaiki.
“Makan bergizi ini tentu intervensi kebijakan yang penting dalam upaya meningkatkan status gizi anak, atau juga mendukung ketahanan pangan keluarga miskin, namun tidak boleh tidak dikritik dan harus ada evaluasi,” ujarnya.
Kasus Keracunan Jadi Peringatan
Sejak diluncurkan pada awal 2025, program MBG telah menjangkau banyak sekolah di berbagai daerah.
Namun dalam perjalanannya, muncul sejumlah laporan mengenai kasus keracunan makanan pada siswa.
Kasus tersebut terjadi di beberapa wilayah dengan jumlah korban yang tidak sedikit.
Menurut Dicky, laporan yang beredar bahkan menunjukkan jumlah korban mencapai ribuan siswa.
“Sejak peluncuran awal 2025 lalu, berbagai laporan menunjukkan munculnya kejadian keracunan makanan massal pada siswa sekolah di berbagai daerah, bahkan mencapai ribuan korban,” katanya.
Kejadian tersebut dinilai sebagai peringatan bagi kesehatan masyarakat.
Dalam program pangan berskala besar, kesalahan dalam pengolahan atau distribusi makanan dapat berdampak luas karena melibatkan banyak penerima manfaat sekaligus.
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/tribunnews/foto/bank/originals/Distribusi-MBG-Selama-Bulan-Ramadan_20260224_170311.jpg)