Gejolak Rupiah
Gatot Nurmantyo Peringatkan Indonesia Menghadapi Triple Crisis, Sebut Gejala 1998
Gatot Nurmantyo menilai Indonesia menghadapi triple crisis ekonomi dan mengingatkan gejala menyerupai kondisi menjelang krisis 1998
Ringkasan Berita:
- Gatot Nurmantyo menilai Indonesia tengah menghadapi krisis tiga dimensi yang saling berkaitan.
- Deindustrialisasi, kebocoran fiskal, dan kerapuhan rupiah disebut menjadi akar persoalan ekonomi nasional.
- Mantan Panglima TNI itu mengingatkan gejala yang muncul memiliki kemiripan dengan kondisi menjelang krisis 1998.
TRIBUNNEWS.COM - Mantan Panglima TNI, Jenderal TNI (Purn) Gatot Nurmantyo, memperingatkan Indonesia sedang menghadapi apa yang disebutnya sebagai triple crisis atau krisis tiga dimensi yang berpotensi menekan perekonomian nasional jika tidak segera diatasi.
Peringatan tersebut disampaikan Gatot dalam forum purnawirawan TNI yang digelar bersama sejumlah perwira tinggi purnawirawan dari tiga matra.
Dalam paparannya, ia menyebut krisis tersebut terdiri atas deindustrialisasi dini, kebocoran fiskal, dan kerapuhan nilai tukar rupiah.
Menurut Gatot, persoalan paling mendasar terletak pada melemahnya sektor industri nasional dalam satu dekade terakhir.
"Sebenarnya kalau kita bedah, saat ini sedang terjadi triple crisis dalam struktur ekonomi Indonesia. Akar masalah utamanya adalah deindustrialisasi dini yang terjadi secara perlahan namun konsisten selama 10 tahun terakhir," kata Gatot, dikutip dari YouTube Refly Harun.
Ia menilai penurunan kapasitas industri telah memicu gelombang pemutusan hubungan kerja (PHK), mendorong pekerja beralih ke sektor informal, sekaligus mengurangi kontribusi sektor produktif terhadap penerimaan negara.
Dalam pandangannya, industri nasional kehilangan daya saing karena tingginya biaya logistik, lemahnya penguasaan teknologi, serta rendahnya efisiensi produksi.
Gatot mencontohkan bagaimana sejumlah bahan baku dari Indonesia justru diproses di luar negeri lalu kembali masuk ke pasar domestik dengan harga lebih murah dan kualitas lebih baik.
Ia juga menyoroti berbagai hambatan yang menurutnya membuat industri sulit berkembang, mulai dari biaya logistik yang tinggi hingga praktik pungutan yang membebani dunia usaha.
Dampak berikutnya, kata dia, adalah melemahnya penerimaan fiskal negara.
Baca juga: Bhima CELIOS: Rupiah Bisa Tembus Rp20.000 per Dolar pada Akhir Juni, Kelas Menengah Menyusut
Menurut Gatot, ketika sektor formal mengecil maka penerimaan pajak ikut menyusut sehingga ruang fiskal pemerintah menjadi semakin sempit. Dalam kondisi tersebut pemerintah akan semakin bergantung pada pembiayaan utang untuk menjalankan berbagai program pembangunan.
"Jika sektor formal mengecil, maka penerimaan pajak negara otomatis mengecil. Dengan mengecilnya penerimaan, APBN tidak memiliki ruang yang cukup untuk dialokasikan ke sektor-sektor penting," ujarnya.
Dalam paparannya, Gatot juga menyinggung kondisi APBN yang menurutnya menghadapi tekanan akibat tingginya kewajiban pembayaran utang dan bunga utang negara.
Ia menyebut ruang fiskal yang semakin terbatas pada akhirnya berdampak langsung terhadap kemampuan pemerintah membiayai pelayanan publik, pembangunan daerah, hingga program perlindungan sosial.
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/tribunnews/foto/bank/originals/gatot-nurmantyo-nihyee2.jpg)