Gejolak Rupiah
Gatot Nurmantyo Peringatkan Indonesia Menghadapi Triple Crisis, Sebut Gejala 1998
Gatot Nurmantyo menilai Indonesia menghadapi triple crisis ekonomi dan mengingatkan gejala menyerupai kondisi menjelang krisis 1998
Krisis ketiga yang disoroti adalah kerapuhan nilai tukar rupiah.
Menurut Gatot, lemahnya sektor industri membuat kemampuan menghasilkan devisa ekspor ikut menurun sehingga pergerakan rupiah semakin bergantung pada sentimen pasar dan kepercayaan investor.
"Kerapuhan rupiah terjadi karena industri dan produksi dalam negeri lemah, sehingga devisa yang masuk dari ekspor juga lemah," katanya.
Ia menilai kondisi tersebut dapat menciptakan lingkaran masalah ekonomi yang saling berkaitan, yakni industri melemah, penerimaan negara menurun, investasi tertekan, dan nilai tukar semakin rentan.
Sebagai solusi, Gatot mendorong pemerintah melakukan reindustrialisasi produktif dengan memperkuat basis manufaktur nasional, meningkatkan efisiensi industri, dan memperbaiki daya saing produk dalam negeri.
Menurutnya, tanpa penguatan sektor industri, Indonesia akan terus menghadapi tekanan ekonomi yang berulang.
Forum purnawirawan TNI sendiri dalam beberapa kesempatan belakangan aktif menyampaikan pandangan mengenai berbagai isu strategis nasional, termasuk ekonomi, pertahanan, dan tata kelola pemerintahan. Beberapa forum purnawirawan juga diketahui menyiapkan rekomendasi tertulis untuk disampaikan kepada Presiden Prabowo Subianto.
Dalam kesempatan yang sama, Gatot juga mengingatkan sejumlah indikator ekonomi yang menurutnya mulai menunjukkan kemiripan dengan kondisi menjelang krisis moneter 1998.
Ia menilai kombinasi deindustrialisasi, meningkatnya PHK, pelemahan daya beli masyarakat, membengkaknya beban utang, hingga menurunnya kepercayaan pasar dapat menjadi sinyal peringatan bagi pemerintah.
"Kondisi ini bisa mengarah pada krisis tahun 1998 kalau kita tidak hati-hati," ujar Gatot.
Ia menyoroti meningkatnya jumlah generasi muda yang kesulitan memperoleh pekerjaan, tekanan terhadap kelas menengah, serta melemahnya daya beli masyarakat sebagai gejala yang perlu diwaspadai.
Dalam pidatonya, Gatot juga mengaitkan penurunan kepercayaan investor dengan volatilitas pasar keuangan dan pelemahan indeks saham domestik.
Meski demikian, sejumlah ekonom sebelumnya menilai kondisi ekonomi Indonesia saat ini berbeda dengan 1998 karena fundamental perbankan, cadangan devisa, serta sistem pengawasan keuangan dinilai jauh lebih kuat dibanding saat krisis Asia melanda Indonesia.
Karena itu, peringatan Gatot lebih tepat dipandang sebagai alarm terhadap sejumlah tekanan ekonomi yang menurutnya perlu segera direspons melalui penguatan sektor industri, perbaikan produktivitas, dan peningkatan kualitas kebijakan fiskal agar tidak berkembang menjadi krisis yang lebih dalam.
Potensi Tembus Rp20 Ribu Per Dolar AS
Direktur Center of Economic and Law Studies (CELIOS) Bhima Yudhistira Adhinegara memperingatkan nilai tukar rupiah berpotensi menembus level Rp20.000 per dolar Amerika Serikat pada akhir Juni apabila tren pelemahan yang terjadi saat ini terus berlanjut.
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/tribunnews/foto/bank/originals/gatot-nurmantyo-nihyee2.jpg)