5 Fakta Ironi BBM Langka di Balikpapan: Kota Minyak tapi Warga Antre Demi Setetes Bahan Bakar
Kelangkaan BBM di Balikpapan bikin warga antre berjam-jam. Kota minyak tapi bahan bakar sulit didapat, ini 5 fakta ironisnya.
Editor:
Glery Lazuardi
TRIBUNNEWS.COM, BALIKPAPAN - Kota Balikpapan, dikenal sebagai “Kota Minyak,” tengah menghadapi ironi besar: kelangkaan Bahan Bakar Minyak (BBM).
Warga harus rela antre panjang demi mendapatkan setetes bahan bakar, meskipun di kota ini terdapat kilang minyak terbesar kedua di Indonesia.
Baca juga: Kepala Kampung di Lampung Tengah Diduga Timbun BBM Bersubsidi, Terungkap Saat Olah TKP Pembakaran
Berikut 5 fakta yang mengungkap ironi BBM langka di Balikpapan.
1. Antrean Panjang di SPBU, Warga Rela Mengantre Berjam-jam
Sejumlah Stasiun Pengisian Bahan Bakar Umum (SPBU) di Balikpapan ramai dengan antrean kendaraan yang memanjang hingga lebih dari satu kilometer.
Para pengendara harus menunggu berjam-jam demi mendapatkan BBM.
Salah satu warga, Andi (35), mengaku, harus menunggu antre dari malam sampai pagi.
“Karena stok Pertamax habis dan saya tak mau kehabisan bensin di jalan,” ujarnya.
Bahkan ada yang rela tidur di mobil untuk memastikan bisa mendapatkan bahan bakar.
2. Kelangkaan Dimulai dari Habisnya Stok Pertamax
Kelangkaan ini bermula saat stok BBM nonsubsidi seperti Pertamax dan Pertamax Turbo kosong.
Akibatnya, banyak warga beralih ke Pertalite yang kemudian juga mulai menipis.
Area Manager Communication Pertamina Patra Niaga Regional Kalimantan, Edi Mangun, menjelaskan, kelangkaan BBM terjadi karena proses stock opname di Fuel Terminal Balikpapan dan tingginya lonjakan permintaan Pertamax.
"Kami sudah alihkan suplai dari Fuel Terminal Samarinda untuk memenuhi kebutuhan di Balikpapan,” ujarnya.
3. Kilang Minyak Balikpapan Produksi Besar, Tapi Pasokan Terhambat
Balikpapan memiliki Refinery Unit V Pertamina dengan kapasitas produksi 260 ribu barel per hari, yang memasok 26 persen kebutuhan BBM nasional.
Edi Mangun menegaskan, Kilang Balikpapan memproduksi dalam jumlah besar.
“Namun distribusi dan stok di terminal mempengaruhi ketersediaan BBM di masyarakat,” ujarnya.
Bahkan, proyek RDMP akan meningkatkan kapasitas produksi menjadi 360 ribu barel per hari, namun masalah distribusi masih jadi tantangan.
Baca juga: Bahlil: Pemerintah akan Setop Impor BBM dari Singapura dalam Enam Bulan ke Depan
Isi komentar sepenuhnya adalah tanggung jawab pengguna dan diatur dalam UU ITE.