Breaking News:

Tribunners / Citizen Journalism

Ustadz Yusuf Mansur, Mutiara NU yang Terlupakan

Ustadz Yusuf Mansur seorang yang multi talenta; pendakwah, motivator, penulis buku, pengusaha, sekaligus pimpinan dari pondok pesantren Daarul Quran

TRIBUNNEWS/IRWAN RISMAWAN
Artis Deddy Corbuzier (kedua kiri) bersama Ulama Gus Miftah (kiri) dan Ulama Yusuf Mansur (kedua kanan) berjalan sebelum menemui Ketua Majelis Ulama Indonesia (MUI) Nonaktif Ma'ruf Amin di kediamannya di Jakarta, Jumat (21/6/2019). Kedatangan Deddy Corbuzier menemui Ma'ruf Amin untuk meminta doa sekaligus agar lebih mengenal islam usai Deddy Corbuzier resmi memeluk agama Islam. TRIBUNNEWS/IRWAN RISMAWAN 

Ia mendalami ilmu Al-Qur'an dengan memperoleh mandat untuk mengajarkan tiga jenis bacaaan (qiraat) yakni bacaan Al-Quran versi Hafash, Warasy dan Abi 'Amr. Ia juga mendalami ilmu Fiqih, ilmu Usul Fiqh, beberapa cabang ilmu bahasa (Arab), Tafsir Al-Qur'an, Hadist, serta Ilmu Falaq (astronomi), sehingga di tanah air ia kelak dikenal sebagai ahli ilmu ini. Kemudian pulang ke tanah air dan sempat singgah di Aden/Yaman, Benggala/Bangladesh, Kalkuta/India, Burma/Myanmar, Malaya/Malaysia, juga Singapura.

Di tanah air, Mansur membantu ayahnya berdakwah. Di lingkungan keluarga besarnya, Mansur dikelilingi oleh para ulama besar seperti Syaikh Jumnaid Al- Batawi, KH Mahbub bin Abdul Hamid, KH Thabrani bin Abdul Mugni, H. Mujtaba bin Ahmad, dan lainnya. Karena kedekatannya dengan masayikh NU, terutama dengan Hadratus Hasyim Asy'ari, begitu Guru Mansur sudah memantapkan diri tingga di Betawi, ia langsung mendirikan pendidikan Nahdlatul Ulama. Karena itu tak berlebihan jika yang membawa dan membesarkan NU, terutama manhaj pendidikannya NU pertama adalah kakek-buyut Ustad Yusuf Mansur ini.

Seperti Mbah Hasyim kawan karibnya, Guru Mansur juga ulama yang sangat produktif menulis dan semua hasil karyanya berbahasa Arab, diantaranya yaitu: Sulamu an nairain, Khulasah al jadawil, Kaifiyatu al amal ijtima, khusfif wa al kusuf, Mizanul I'tidal, Washilatu at thullab, Jadwal dawairul falakiyah, Majmu' arba' rasail fi mas'alatil hilal, Rub'ul Mujayyab, Mukhtasar ijtima'u an nairain, Tadzkiratu an nafi'ah fi sihati 'amali as saum wa al fitr, Tudihul adillah fi sihati as saum wal fitr, Jadwal Faraid, Al lu'lu ulmankhum fi khulasah mabahist sittah ulum, I'rabul jurumiyah an nafi' lil mubtadi, Silsilati as sanad fi ad din wa ittisaluha sayyidul mursalin, Tashriful abwab limatan bina, Jidwal kiblat, Jidwal au kutussolah dan Tathbiq amalul ijtima' wal khusuf wal kusuf.

Kesamaan lainnya dengan Mbah Hasyim adalah Guru Mansur gemar berdagang, salah satu yang digelutinya adalah berdagang berbagai jenis kain dan pakaian. Dari usaha ini ia membiayai pendidikannya secara mandiri. Karenanya, tak mengherankan ia termasuk tokoh awal yang berkiprah di Nahdlatu Tujjar, sebelum ia aktif di Nahdlatul Ulama (NU). Di Organisasi ini, bahkan ia sempat menjadi Rais Syuriah NU di Batavia dan menjadi salah satu dewan pengarah Muktamar NU ke-3 di Surabaya pada 1928, kemudian mendirikan madrasah NU pada 1930. Tahun 1951, nama madrasah itu kemduian berganti menjadi Yayasan Chairiyah Mansuriyah dan masih eksis hingga kini.

Selain itu, ia juga salah satu pejuang dari Betawi yang sangat diperhitungkan di eranya. Guru Mansur adalah sosok ulama berpengaruh yang berdiri mantap di belakang panji-panji republik. Sebelum atau menjelang kemerdekaan Indonesia, ia kerap dengan heroik menaikkan bendera Merah-Putih, di menara-menara masjid, lalu menganjurkan kepada masyarakat Betawi dan umat Islam untuk melakukan hal serupa. Kala itu tahun 1925, pemerintah kolonial di Batavia bermaksud membongkar Masjid Cikini. Rencana itu tentu saja mendapat reaksi keras dari umat Islam. Guru Mansur menjadi motor perjuangan untuk menggagalkan pembongkaran masjid tersebut.

Gerakan protes yang digalang Guru Mansur ternyata manjur. Dengan mempertimbangkan berbagai aspek, rencana dibongkarnya Masjid Cikini oleh pemerintah kolonial Belanda itu pun akhirnya urung dilakukan. Bersama tokoh Islam lain, Guru Mansur juga menjalin relasi dan berhubungan baik dengan tokoh-tokoh Islam nasional ternama termasuk Syekh Ahmad Syurkati, juga KH Ahmad Dahlan,  Muhammad Natsir, KH. Mas Mansur, Hadji Oemar Said Tjokroaminoto, dan masih banyak lagi. (Dinas Kebudayaan dan Permuseuman Pemerintah Provinsi DKI Jakarta, Ensiklopedi Jakarta: Culture & Heritage, 2005:249).

Karena itu tak berlebihan kalau ada pepatah; buah tak pernah jatuh jauh dari pohonnya. Mungkin ini pepatah yang tepat untuk mengkaitkan hubungan Ustad Yusuf Mansur dengan kakek-buyutnya, Guru Mansur yang tanggal 12 Mei 1967 atau setengah abad lebih silam, wafat dalam usia 88 tahun. Ulama besar panutan umat Islam dan masyarakat Betawi sekaligus pejuang yang gigih membela republik ini. Penulis kira, apa yang sudah dilakukan oleh Ustad Mansur dalam banyak langkahnya yang nyata, para nahdiliyin lain harus mencontoh hal-hal yang positif darinya. Termasuk bagaimana berdakwah yang bisa menembus batas, teruatama masyarakat perkotaan dan melenial.

Oleh karena itu, ada sedikit keganjilan di benak penulis, Ustad Yusuf Mansur nyata dari sisi kultur, keturunan, keluarga, latar belakang pendidikan dan metode dakwahnya yang moderat khas NU, tetapi kenapa kalangan Nahdliyin masih belum memasukanya dalam daftar pendakwah NU? Padahal, selain sisi di atas, kontribusi dan popularitasnya diatas rata-rata pendakwah NU yang lain? Setidaknya ini menurut survey LSI. Penulis khawatir, hal itu disebabkan salah satunya, karena ia hanya berasal dari Betawi? Dan, penulis juga khawatir dengan anggapan bahwa NU itu adalah organisasi Jawa sentris, sehingga lumrah pendakwah potensial dari Betawi seperti Ustad Mansur terlupakan? Wallahu'alam Bishwab. 

*Penulis adalah alumni Pondok Pesantren Lirboyo, Kediri; Alumni Universitas Al-Azhar, Mesir, Dept. Theology and Philosophy; Alumni Universiti Kebangsaan Malaysia, Dept. Politic and Strategy; Alumni Universiti Malaya, Dept. International Strategic and Defence Studies; Pengasuh Pondok Pesantren Bina Insan Mulia, Cirebon; Wakil Ketua Pimpinan Pusat Rabithah Ma’ahid Islamiyah (Asosiasi Pondok Pesantren se-Indonesia); Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) Periode 2010-2015.

Berita Populer
Editor: Husein Sanusi
Tribunners merupakan jurnalisme warga, dimana warga bisa mengirimkan hasil dari aktivitas jurnalistiknya ke Tribunnews, dengan mendaftar terlebih dahulu atau dikirim ke email redaksi@tribunnews.com
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2020 TRIBUNnews.com,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved