Jumat, 24 April 2026

Tribunners / Citizen Journalism

Aktivis KontraS Disiram Air Keras

Serangan Terhadap Aktivis: Sinyal Dekadensi Demokrasi

Penyerangan dengan air keras kepada Aktivis KontraS, Andrie Yunus, merupakan alarm keras bagi negara hukum dan demokrasi.

Editor: Hasanudin Aco
Tribunnews.com/Kompas.com/Firda Janati
Wakil Koordinator Bidang Eksternal KontraS Andrie Yunus saat ditemui di Gedung YLBHI, Jakarta Pusat, Senin (8/9/2025). Pekan lalu Andrie mendapat teror disiram air keras. 

Serangan terhadap aktivis KontraS juga harus menjadi refleksi bagi kualitas demokrasi Indonesia. Reformasi 1998 membuka ruang kebebasan yang jauh lebih luas bagi masyarakat sipil.

Namun kebebasan tersebut akan kehilangan makna jika individu yang menggunakan haknya untuk memperjuangkan keadilan justru menjadi sasaran kekerasan. 

Demokrasi yang sehat membutuhkan ruang aman bagi kritik dan advokasi. Tanpa itu, demokrasi hanya menjadi prosedur formal tanpa substansi.

Oleh karena itu, peristiwa ini tidak boleh berhenti pada kecaman moral semata. Penegak hukum harus bertindak cepat, transparan, dan akuntabel dalam mengungkap kasus ini secara menyeluruh. Pemerintah juga harus memastikan adanya mekanisme perlindungan yang lebih kuat bagi para pembela HAM, baik melalui kebijakan nasional maupun praktik penegakan hukum yang konsisten.

Transparansi dan keterbukaan menjadi hal penting bukan hanya retorika demokrasi yang kosong tanpa fondasi dan substansi.

Darurat Pelindungan Demokrasi: Tegas atau Mati?

Serangan penyiraman air keras terhadap aktivis Komisi untuk Orang Hilang dan Korban Tindak Kekerasan (KontraS) bukan sekadar tindak kriminal yang berdiri sendiri. Ia adalah sinyal bahaya bagi demokrasi dan ujian nyata bagi keberanian negara menegakkan hukum tanpa kompromi.

Dalam negara yang mengaku menjunjung tinggi hak asasi manusia, kekerasan brutal terhadap pembela HAM seharusnya memicu respons cepat, tegas, dan transparan dari aparat penegak hukum.

Jika serangan seperti ini dibiarkan berlalu tanpa pengungkapan yang menyeluruh, maka pesan yang sampai kepada publik sangat jelas: ruang aman bagi aktivisme sipil semakin menyempit, sementara impunitas bagi pelaku kekerasan terus menemukan tempatnya.

Serangan air keras terhadap aktivis KontraS seharusnya menjadi alarm keras bagi negara hukum. Sebuah negara hukum tidak hanya mengukur nilai hukum dan keadilan dari keberadaan undang-undang, tetapi dari keberanian institusi negara melindungi mereka yang memperjuangkan keadilan.

Jika negara gagal menjamin keselamatan para pembela HAM, maka yang terancam bukan hanya individu yang menjadi korban, melainkan juga masa depan demokrasi itu sendiri.

Pada akhirnya, ukuran komitmen negara terhadap demokrasi tidak hanya terlihat dari pemilu yang bebas, tetapi juga dari keberanian negara melindungi mereka yang berjuang untuk keadilan.

Jika aktivis HAM, lingkungan hidup, ataupun pejuang hak masyarakat lainnya dapat diserang dengan cara yang begitu brutal, tanpa respons negara yang tegas dan cepat, maka yang dipertaruhkan bukan hanya keselamatan individu, tetapi juga kredibilitas Indonesia sebagai negara hukum yang menjunjung tinggi hak asasi manusia dan hukum bukan hanya kekuasaan semata.

Hadirnya keadilan sangat dibutuhkan untuk menyelamatkan kemerosotan demokrasi akibat kejadian saat ini. Masyarakat akan menunggu komitmen besar dalam mengungkap kasus ini.

 

Sumber: Tribunnews.com

Tribuners adalah platform jurnalisme warga. Untuk berkontribusi, anda bisa mengirimkan karya dalam bentuk berita, opini, esai, maupun kolom ke email redaksi@tribunnews.com

Konten menjadi tanggungjawab penulis dan tidak mewakili pandangan redaksi tribunnews.com.

Halaman 4/4
Rekomendasi untuk Anda

Berita Terkini

© 2026 TribunNews.com, a subsidiary of KG Media. All Right Reserved