Selasa, 21 April 2026

Tribunners / Citizen Journalism

Di Ambang Hormuz: Ketika Para Pemimpin Dunia Membaca Peta Perang yang Sama

Sejarah selalu punya cara sederhana untuk mengingatkan manusia: siapa yang menguasai jalur energi, dialah yang memegang denyut dunia.

HO/IST/Tangkap Layar/Khaberni
SELAT HORMUZ - Lalulintas kapal di Selat Hormuz sebelum blokade militer oleh Iran dampak serangan Amerika Serikat dan Israel ke Teheran. Selat ini menjadi jalur vital bagi lalulintas kapal pengangkut minyak dari produsen-produsen minyak dunia yang berada di kawasan Timur Tengah. 

Di sisi lain dunia, Xi Jinping membaca krisis Teluk dari sudut yang jauh lebih pragmatis.

China adalah importir minyak terbesar di dunia. Sebagian besar minyak itu datang dari Timur Tengah dan melewati Hormuz.

Jika selat itu terganggu, yang pertama merasakan dampaknya bukan Washington atau Brussel, tetapi pabrik-pabrik di Shanghai, Shenzhen, dan Guangzhou.

Karena itu Beijing mengambil posisi klasik diplomasi China: menyerukan de-eskalasi, menolak terlibat dalam operasi militer, dan membuka diri sebagai mediator.

Bagi China, stabilitas lebih penting daripada kemenangan siapa pun dalam konflik ini.

Moskow: Krisis Sebagai Ruang Manuver

Di Moskow, Vladimir Putin melihat situasi dengan kalkulasi berbeda.

Rusia tidak ingin Iran runtuh. Tetapi Rusia juga tidak tergesa-gesa mengakhiri konflik.

Dalam logika geopolitik Kremlin, setiap krisis yang menyibukkan Amerika di Timur Tengah berarti dua keuntungan: fokus Washington terhadap Eropa berkurang, dan harga energi dunia cenderung naik.

Krisis Teluk, dalam perspektif Rusia, bukan sekadar ancaman. Ia juga ruang manuver.

Riyadh: Dilema Lama Dunia Arab

Di Teluk sendiri, Salman bin Abdulaziz Al Saud menghadapi dilema klasik.

Iran adalah rival strategis Arab Saudi selama puluhan tahun.

Namun perang besar dengan Iran juga berisiko menghancurkan stabilitas kawasan yang menjadi jantung ekonomi Teluk.

Riyadh karena itu mengambil posisi yang sangat berhati-hati: mendukung tekanan terhadap Iran, tetapi tidak ingin wilayahnya berubah menjadi pangkalan perang terbuka.

Sumber: Tribunnews.com

Tribuners adalah platform jurnalisme warga. Untuk berkontribusi, anda bisa mengirimkan karya dalam bentuk berita, opini, esai, maupun kolom ke email redaksi@tribunnews.com

Konten menjadi tanggungjawab penulis dan tidak mewakili pandangan redaksi tribunnews.com.

Halaman 2/4
Rekomendasi untuk Anda

Berita Terkini

© 2026 TribunNews.com, a subsidiary of KG Media. All Right Reserved