Sabtu, 25 April 2026

Tribunners / Citizen Journalism

Di Ambang Hormuz: Ketika Para Pemimpin Dunia Membaca Peta Perang yang Sama

Sejarah selalu punya cara sederhana untuk mengingatkan manusia: siapa yang menguasai jalur energi, dialah yang memegang denyut dunia.

HO/IST/Tangkap Layar/Khaberni
SELAT HORMUZ - Lalulintas kapal di Selat Hormuz sebelum blokade militer oleh Iran dampak serangan Amerika Serikat dan Israel ke Teheran. Selat ini menjadi jalur vital bagi lalulintas kapal pengangkut minyak dari produsen-produsen minyak dunia yang berada di kawasan Timur Tengah. 

Diplomasi Saudi hari ini berjalan seperti meniti tali di atas jurang geopolitik.

Tehran: Memperluas Medan Konflik

Di Tehran, Masoud Pezeshkian menghadapi tekanan yang menyentuh inti eksistensi negara.

Sejak Revolusi 1979, strategi Iran selalu memiliki satu prinsip sederhana: jika diserang, perluas medan konflik.

Iran tidak selalu berusaha memenangkan perang secara cepat. Sebaliknya, ia berusaha membuat perang menjadi mahal bagi lawannya.

Misil balistik, drone, dan jaringan milisi regional adalah bagian dari strategi itu—sebuah bentuk eskalasi asimetris yang dirancang untuk menekan lawan tanpa harus berhadapan langsung dalam perang konvensional besar.

Tel Aviv: Ancaman yang Tidak Boleh Dibiarkan

Bagi Benjamin Netanyahu, konflik dengan Iran adalah bagian dari pertarungan yang sudah berlangsung puluhan tahun.

Israel melihat Iran sebagai ancaman strategis terbesar bagi masa depan negara itu.

Karena itu operasi militer Israel terhadap target-target Iran bukan sekadar respons terhadap situasi terbaru. Ia adalah bagian dari strategi jangka panjang: melemahkan kemampuan Iran memproyeksikan kekuatan di kawasan.

Dalam pandangan Tel Aviv, menunda konfrontasi hanya akan membuat ancaman menjadi lebih besar di masa depan.

Peta Dunia yang Terbagi

Jika semua posisi ini disederhanakan, dunia saat ini terbagi dalam tiga lingkar kepentingan.

  • Lingkar ofensif: Amerika Serikat dan Israel.
  • Lingkar perlawanan: Iran dan jaringan militannya.
  • Lingkar penyeimbang: China, Rusia, serta sebagian negara Teluk dan Eropa.

Di antara ketiga lingkar ini berdiri satu titik yang sama-sama mereka awasi: Selat Hormuz.

Ia bukan sekadar jalur pelayaran. Ia adalah katup raksasa ekonomi global.

Sumber: Tribunnews.com

Tribuners adalah platform jurnalisme warga. Untuk berkontribusi, anda bisa mengirimkan karya dalam bentuk berita, opini, esai, maupun kolom ke email redaksi@tribunnews.com

Konten menjadi tanggungjawab penulis dan tidak mewakili pandangan redaksi tribunnews.com.

Halaman 3/4
Rekomendasi untuk Anda

Berita Terkini

© 2026 TribunNews.com, a subsidiary of KG Media. All Right Reserved