Tribunners / Citizen Journalism
Di Ambang Hormuz: Ketika Para Pemimpin Dunia Membaca Peta Perang yang Sama
Sejarah selalu punya cara sederhana untuk mengingatkan manusia: siapa yang menguasai jalur energi, dialah yang memegang denyut dunia.

Ada satu pelajaran lama dalam sejarah geopolitik: dunia jarang benar-benar tenang di sekitar jalur energi.
Dari Terusan Suez hingga Selat Malaka, dari Laut Hitam hingga Teluk Persia, peradaban modern selalu berdiri di atas arteri sempit tempat minyak, gas, dan perdagangan dunia mengalir.
Hari ini, arteri itu kembali berdenyut tegang di Selat Hormuz.
Sekitar seperlima minyak dunia melewati selat sempit ini. Jika ia tersumbat, bahkan hanya beberapa minggu, ekonomi global akan merasakan demamnya.
Harga energi melonjak, inflasi menekan dapur rumah tangga, dan stabilitas politik di banyak negara bisa ikut terguncang.
Karena itu, ketika konflik Iran–Israel memanas dan bayang-bayang konfrontasi Amerika muncul di Teluk, para pemimpin dunia tidak sedang menonton dari jauh.
Mereka semua membaca peta yang sama—tetapi dengan kepentingan yang berbeda.
Washington: Menjaga Arsitektur Dunia Lama
Di Washington, Donald Trump melihat krisis Teluk dalam bingkai yang sudah lama membentuk geopolitik Amerika: laut harus tetap terbuka bagi perdagangan dunia.
Amerika memandang stabilitas Selat Hormuz bukan sekadar kepentingan regional, tetapi bagian dari arsitektur global yang dibangun sejak Perang Dunia II.
Jalur energi harus aman, dan tidak boleh berada di bawah ancaman satu kekuatan regional.
Karena itu Washington mendukung operasi militer Israel terhadap Iran, sekaligus menekan sekutu-sekutunya agar ikut menjaga jalur pelayaran Teluk.
Namun di balik ketegasan itu, Amerika juga menyadari satu kenyataan pahit sejarah: Iran bukan Irak, dan bukan Afghanistan. Invasi darat ke negeri itu hampir pasti menjadi perang panjang yang mahal.
Maka strategi Washington kemungkinan akan tetap berada pada tekanan militer terbatas—serangan udara, operasi intelijen, dan tekanan ekonomi—dengan harapan Tehran kembali ke meja perundingan.
Beijing: Stabilitas Energi di Atas Segalanya
Sumber: Tribunnews.com
Tribuners adalah platform jurnalisme warga. Untuk berkontribusi, anda bisa mengirimkan karya dalam bentuk berita, opini, esai, maupun kolom ke email redaksi@tribunnews.com
Konten menjadi tanggungjawab penulis dan tidak mewakili pandangan redaksi tribunnews.com.
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/tribunnews/foto/bank/originals/Lalulintas-kapal-di-Selat-Hormuz.jpg)