Penggunaan BBM Beretanol Dinilai Dapat Menekan Emisi Karbon
langkah Indonesia menuju bahan bakar campuran etanol (E10) adalah babak baru dalam sejarah otomotif dan energi hijau nasional.
Ringkasan:
- Langkah Indonesia menuju bahan bakar campuran etanol (E10) adalah babak baru dalam sejarah otomotif
- Penggunaan bahan bakar dengan campuran etanol justru membuka potensi besar dalam upaya menekan emisi karbon
- Negara lain seperti Amerika sudah pakai E30 sampai E85, India dan Thailand pun sudah E20
TRIBUNNEWS.COM, JAKARTA - Pereli nasional Sunny Boy Hutabarat berbicara soal bahan bakar masa depan. Bagi juara reli nasional itu, langkah Indonesia menuju bahan bakar campuran etanol (E10) adalah babak baru dalam sejarah otomotif dan energi hijau nasional.
“Dari kacamata pecinta otomotif dan pereli, saya melihat ini transformasi yang baik. Karena kita menuju ke green energy. Ini tahapan awalnya, E10,” katanya disela kesibukannya di Jakarta dikutip Sabtu (18/10/2025).
Menurut Sunny, penggunaan bahan bakar dengan campuran etanol justru membuka potensi besar dalam upaya menekan emisi karbon. “Pembakarannya lebih bersih. Kalau pembakaran lebih bersih, karbon dari kendaraan juga menurun,” ujar juara kelas F1 Danau Toba Rally 2023 itu.
Baca juga: Dukung Pemakaian Etanol di BBM, PTPN I Sanggup Pasok 36.000 Kiloliter per Tahun
Emisi karbon adalah pelepasan gas karbon dioksida (CO₂) dan gas rumah kaca lainnya ke atmosfer, terutama akibat aktivitas manusia seperti pembakaran bahan bakar fosil.
Ia menjelaskan, secara teknis bahan bakar beretanol memang memiliki karakter berbeda dibanding bensin murni.
“Konsumsinya sedikit lebih tinggi, karena energi per liternya lebih rendah. Tapi hasil pembakarannya lebih bersih karena kandungan oksigen di dalam etanol lebih banyak,” tuturnya.
Sunny sudah merasakan langsung pengalaman menggunakan bahan bakar campuran di luar negeri. “Saya pernah pakai E10 waktu di Eropa, throttle responnya halus banget. Sama saja kayak bensin biasa, malah lebih lembut. Di sana semua mobil di atas tahun 2018 sudah siap pakai etanol sampai 10 persen,” ucapnya.
Namun, menurutnya, sosialisasi yang kuat masih dibutuhkan agar masyarakat tak salah paham. “Perlu sosialisasi. Karena banyak orang menangkap dari berbagai perspektif, jadi kayak kaget. Padahal negara lain seperti Amerika sudah pakai E30 sampai E85, India dan Thailand pun sudah E20,” katanya.
Sebagai pembalap reli, Sunny percaya dunia otomotif tak bisa menutup mata terhadap perubahan. “Transformasi energi ini harus kita lakukan, dan wajib kita dukung. Jangan lihat etanol sebagai ancaman, tapi sebagai solusi masa depan energi Indonesia,” ujarnya.
Baca juga: Ada Wacana BBM Dicampur Etanol 10 Persen, Pertamina Patra Niaga Siap Edukasi Masyarakat
Ia bahkan berharap langkah ini bisa menjadi warisan baik bagi generasi berikutnya. “Kita harus memberikan legacy kepada generasi penerus kita. Jangan sampai kita meninggalkan warisan bahwa negara kita belum beranjak ke green energy. Sekarang waktunya berubah,” ujar Sunny.
Langkah Indonesia menuju penggunaan bahan bakar E10 sejalan dengan kebijakan transisi energi bersih yang dijalankan Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM).
Pemerintah menargetkan peningkatan bauran energi ramah lingkungan sekaligus mengurangi ketergantungan pada impor bahan bakar fosil.
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/tribunnews/foto/bank/originals/SPBU-SWASTA-Situasi-Stasiun-Pengisian-Bahan-Bakar-Umum-SPBU-Pertamina.jpg)