Perjanjian Dagang RI dengan AS
CSIS: Tarif Resiprokal Tak Otomatis Paksa Indonesia Berpihak ke Amerika
Situasi perdagangan global saat ini tidak bisa dibaca dalam bahasa sederhana, seolah memilih AS berarti meninggalkan mitra lain.
Ringkasan Berita:
TRIBUNNEWS.COM, JAKARTA - Isu bahwa Agreement on Reciprocal Tariff dapat menyeret Indonesia untuk berpihak secara permanen kepada Amerika Serikat dinilai terlalu disederhanakan.
Peneliti Departemen Hubungan Internasional Centre for Strategic and International Studies (CSIS) Muhammad Habib mengatakan, kesepakatan dagang tersebut tidak bersifat hitam-putih.
"Saya rasa tidak. Di dalam berbagai macam kosakata atau vocabulary di dalam penandatanganan ini ada yang namanya on national interest. Jadi due consideration of national interest, melihat juga kepentingan nasional Indonesia seperti apa. Apakah kemudian kita dipaksa akan memilih? Saya rasa situasinya tidak black and white," tutur Habib dalam Konferensi Pers Centre for Strategic and International Studies (CSIS) di Auditorium CSIS, Tanah Abang, Jakarta Pusat, Jumat (27/2/2026).
Baca juga: CSIS Soroti Risiko dan Peluang di Balik Tarif Resiprokal RI-AS Pasca Putusan Mahkamah Agung AS
Situasi perdagangan global saat ini tidak bisa dibaca dalam bahasa sederhana, seolah memilih Amerika Serikat berarti meninggalkan mitra lain atau sebaliknya.
Habib menilai, pada akhirnya kepentingan komersial tetap menjadi faktor dominan. Perusahaan-perusahaan Amerika Serikat yang berinvestasi di Indonesia pun tetap membutuhkan ekosistem kerja sama Indonesia dengan berbagai negara lain, termasuk Tiongkok.
"Perusahaan-perusahaan Amerika Serikat yang akan masuk ke Indonesia itu juga tetap akan membutuhkan bagaimana kerja sama kita dengan berbagai negara termasuk juga dengan Tiongkok," jelasnya.
Oleh karena itu, ia melihat narasi publik yang memposisikan perjanjian tarif sebagai pilihan antara baik atau buruk kurang mencerminkan kompleksitas situasi.
Habib juga menekankan pentingnya membaca respons Tiongkok dalam dinamika tarif dengan Amerika Serikat. Menurutnya, bahkan Tiongkok tetap melakukan negosiasi aktif dengan AS untuk mengamankan kepentingannya sendiri.
Ia mencontohkan bagaimana ekspor rare earth dari Tiongkok ke AS masih berlanjut, demikian pula ekspor semikonduktor dari AS ke Tiongkok. Hal itu menunjukkan bahwa rivalitas tidak serta-merta menghentikan hubungan ekonomi strategis.
Dalam struktur internasional saat ini, Amerika Serikat masih memegang kekuatan ekonomi besar. Dolar tetap dominan dalam sistem keuangan global dan pasar AS masih menjadi tujuan utama ekspor banyak negara berkembang.
"Semua masih sangat mempertimbangkan kekuatan pasar dari Amerika Serikat untuk mengonsumsi produk-produk ekspor dari negara berkembang," terang Habib.
Dalam konteks tersebut, Indonesia dinilai perlu bersikap realistis sekaligus strategis. Situasi global memang tidak ideal, tetapi bukan berarti Indonesia kehilangan ruang manuver.
Habib menyampaikan bahwa pemerintah perlu memilih dan memilah ketentuan dalam kesepakatan tarif resiprokal yang mendukung strategic diversification atau diversifikasi strategis Indonesia.
"Kalau misalnya mendukung strategic diversification Indonesia tentu perlu dilanjutkan," ujarnya.
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/tribunnews/foto/bank/originals/Konferensi-Pers-Centre-for-Strategic-and-International-Studies-di-Auditorium-CSIS.jpg)