Kereta Cepat
Bebani Fiskal, Pemerintah Diingatkan Hati-hati Restrukturisasi Utang Whoosh
Pemerintah diminta berhati-hati merestrukturisasi utang proyek PT Kereta Cepat Indonesia China (KCIC) Whoosh.
Ringkasan Berita:
- Pemerintahan Prabowo Subianto diminta berhati-hati merestrukturisasi utang proyek PT Kereta Cepat Indonesia China (KCIC), Whoosh.
- Restrukturisasi yang dilakukan ceroboh bisa menjadi beban baru bagi keuangan negara (fiskal).
- Masuknya pemerintah dalam skema pengelolaan atau penyelamatan KCIC harus diiringi dengan perbaikan fundamental, baik dari sisi bisnis, operasional, maupun proyeksi keuangan.
TRIBUNNEWS.COM, JAKARTA - Anggota Komisi XI DPR RI Amin Ak meminta pemerintahan Presiden Prabowo Subianto berhati-hati jika hendak merestrukturisasi utang proyek PT Kereta Cepat Indonesia China (KCIC), Whoosh.
Jika restrukturisasi dilakukan sembrono bisa menjadi beban baru bagi keuangan negara (fiskal).
Menurut Amin, proyek strategis nasional seperti kereta cepat harus tetap dijaga keberlanjutannya, namun dengan prinsip tata kelola yang sehat, transparan, dan tidak membebani fiskal dalam jangka panjang.
“Kita memahami bahwa proyek Whoosh ini merupakan proyek strategis yang sudah berjalan. Namun, langkah restrukturisasi utang maupun opsi pengambilalihan harus dihitung secara cermat agar tidak menjadi beban fiskal baru bagi negara,” kata Amin, kepada wartawan Rabu (8/4/2026).
Menurut Amin, masuknya pemerintah, dalam hal ini Kementerian Keuangan dalam skema pengelolaan atau penyelamatan KCIC harus diiringi dengan perbaikan fundamental, baik dari sisi bisnis, operasional, maupun proyeksi keuangan.
“Jika pemerintah mengambil peran lebih besar, maka harus dipastikan ada perbaikan model bisnis yang jelas. Jangan sampai negara hanya mengambil alih risiko tanpa mendapatkan kepastian terhadap keberlanjutan dan profitabilitas proyek,” ujarnya.
Amin juga menyoroti pentingnya evaluasi menyeluruh terhadap pembengkakan biaya (cost overrun) yang terjadi dalam proyek tersebut.
Dia meminta agar ke depan tidak terjadi pengulangan kesalahan yang sama dalam proyek-proyek infrastruktur lainnya.
Selain itu, Amin juga mendorong pemerintah untuk memastikan bahwa operasional kereta cepat Whoosh dapat berjalan secara sehat dan memiliki tingkat keterisian yang memadai agar tidak terus bergantung pada dukungan negara.
“Ke depan, yang paling penting adalah memastikan operasionalnya sehat. Tingkat keterisian penumpang harus ditingkatkan, efisiensi dijaga, dan inovasi layanan diperkuat agar proyek ini bisa berdiri secara mandiri,” katanya.
Amin juga mengingatkan agar langkah restrukturisasi tidak mengabaikan prinsip akuntabilitas dan transparansi kepada publik, mengingat proyek ini menggunakan dana yang sangat besar.
Dia menegaskan, Komisi XI DPR RI akan terus mengawal kebijakan pemerintah terkait restrukturisasi KCIC agar tetap berada dalam koridor kehati-hatian fiskal.
“Kami di DPR tentu akan mencermati dan mengawal proses ini secara ketat. Tujuannya jelas, agar proyek ini bisa berlanjut dengan sehat tanpa membebani APBN dan tetap memberikan manfaat bagi masyarakat,” tandasnya.
Restrukturisasi Utang Whoosh di Tahap Final
Untuk diketahui, pemerintah mengatakan restrukturisasi utang proyek Kereta Cepat Indonesia-China (KCIC) atau Whoosh telah mencapai tahap akhir.
Proses penyelesaian kini tinggal menunggu langkah formal sebelum diumumkan secara resmi ke publik.
Kepala Badan Pengelola (BP) BUMN yang juga Chief Operating Officer (COO) Danantara Dony Oskaria mengatakan, kesepakatan telah tercapai setelah melalui pembahasan bersama Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa.
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/tribunnews/foto/bank/originals/Penumpang-Whoosh-Naik-25-Persen-Saat-Libur-Imlek_20260217_180041.jpg)