Iran Vs Amerika Memanas
Trump Sebut Iran Setuju dengan Kesepakatan Damai, tapi Terus Tebar Ancaman
Presiden AS, Donald Trump mengklaim bahwa Iran telah menyetujui kesepakatan damai. Akan tetapi, Trump terus menebar ancaman terhadap Iran.
Lonjakan harga minyak yang mencapai 60 persen dalam satu bulan terakhir ini dipicu oleh kekhawatiran akut akan terhentinya pasokan energi global akibat perang yang kian memanas.
Para pelaku pasar mengaku kesulitan membaca arah kebijakan Washington yang dinilai sering berubah-ubah.
Ketegangan ini tidak hanya terjadi di medan perang, tetapi juga di ruang digital.
Ketua Parlemen Iran, Mohammad Bagher Ghalibaf, melontarkan kritik pedas yang diduga kuat ditujukan kepada Trump.
Melalui unggahan di media sosial, Ghalibaf menggunakan istilah bursa saham untuk menyindir pengumuman AS.
"Kabar yang disebut 'berita' atau 'kebenaran' di sesi pra-pasar sering kali hanyalah settingan untuk ambil untung (profit-taking)," tulis Ghalibaf, mengutip Iran International.
Baca juga: Serangan Balasan Iran Picu Kepanikan di Parlemen Israel, Sidang Knesset Dihentikan
Sindiran ini mempertegas sikap skeptis Teheran terhadap niat diplomasi Amerika di tengah tekanan militer.
Konflik ini juga mulai berdampak pada kebijakan imigrasi di kawasan Teluk.
Uni Emirat Arab (UEA) dilaporkan mulai mengambil tindakan tegas dengan membatalkan visa residensi sejumlah warga negara Iran yang sedang berada di luar negeri.
Langkah ini membuat banyak ekspatriat Iran terdampar dan tidak bisa kembali ke rumah mereka di UEA.
Keputusan sepihak ini disinyalir sebagai buntut dari memburuknya hubungan bilateral kedua negara setelah serangan Iran ke wilayah Arab beberapa waktu lalu.
Hingga saat ini, otoritas UEA belum memberikan keterangan resmi terkait pencabutan visa massal tersebut.
(Tribunnews.com/Whiesa)