Sabtu, 30 Agustus 2025

Konflik Iran Vs Israel

Bau Busuk Limbah Kotoran, Shelter Bom Jadi Rebutan Pemukim Israel: Saling Usir dan Kunci

Warga Israel saling berebutan shelter perlindungan bom saat rudal-rudal Iran menyerang kota-kota utama di Israel. Mereka saling usir dan kunci

khaberni/tangkap layar
BAU BUSUK - Satu di antara lokasi perlindungan bom bagi warga pemukim Israel yang didokumentasikan media lokal, ditangkap layar, Kamis (19/6/2025). Meski bertabur keluhan soal bau busuk dan perawatan minim, lokasi-lokasi shelter bom ini menjadi rebutan warga Israel saat serangan rudal Iran mengganas. 

Bau Busuk Penuh Limbah Kotoran, Shelter Bom Jadi Rebutan Pemukim Israel: Saling Usir dan Kunci

TRIBUNNEWS.COM - Kepanikan para pemukim Israel atas serangan rudal Iran menyibakkan kenyataan yang mencoreng apa yang selama ini didengung-dengungkan pemerintah negara pendudukan tersebut.

Harus diketahui, sejak pendudukan Palestina, pemerintah Israel selalu berupaya untuk memproyeksikan citra kohesif, persatuan, dan solidaritas rakyat Israel, menganggap mereka sebagai "bangsa yang ideal" di wilayah tersebut.

Baca juga: Israel Heran Serangan Houthi Tak Sebanyak yang Disangka, Kepala Militer Kena Bom Saat Kunyah Khat

Namun narasi ini mulai terkikis dengan Operasi "Banjir Al Aqsa," yang diluncurkan oleh Brigade Izz ad-Din al-Qassam, sayap militer Gerakan Perlawanan Hamas, pada 7 Oktober 2023 silam.

Citra itu sepertinya makin rusak dengan pecahnya konfrontasi militer langsung antara Iran dan Israel.

Peluncuran rudal Iran ke wilayah Israel, sirene serangan udara mulai berbunyi di berbagai kota, mendorong warga Israel untuk bergegas ke tempat perlindungan sesuai dengan instruksi dari Komando Front Dalam Negeri.

"Namun, sebuah adegan video yang diungkap oleh jurnalis Israel Daniel Amram melalui platform X mengungkap kenyataan yang sama sekali berbeda dari narasi resmi tentang kohesi (persatuan) masyarakat Israel," tulis ulasan Khaberni, Kamis (19/6/2025).

Video itu mendokumentasikan warga sebuah gedung di Kota Petah Tikva, Tel Aviv yang menolak mengizinkan sebuah keluarga dengan anak-anak masuk ke tempat penampungan saat sirene berbunyi.

Ironisnya, larangan masuk bagi keluarga itu dilakukan dengan alasan "bukan karena kurangnya ruang, tetapi masalah prinsip."

Amram menyatakan, polisi tiba di tempat kejadian tanpa mengambil tindakan apa pun, sementara penghuni gedung tetap bersikeras pada posisi mereka dan mengancam akan melarang orang luar masuk jika ada alarm di masa mendatang.

 
Adegan itu memicu gelombang kemarahan dan perdebatan sengit di kalangan warga Israel di media sosial soal egoisme yang membuncah di antara para pemukim.

Beberapa tweeter berkomentar kalau apa yang terjadi itu "mengejutkan."

Mereka berkata, "Sejak berdirinya negara ini, kita telah mendengar kisah-kisah tentang kekuatan, persatuan, dan solidaritas, tentang pasukan yang tak terkalahkan dan rakyat yang bersatu di masa-masa sulit. Namun, pada saat yang menentukan, muncul gambaran yang berbeda: Kita mulai dengan berjuang untuk memulangkan mereka yang diculik, dan hari ini kita membiarkan orang-orang di jalan selama ultimatum, mencari tempat berlindung."

Netizen lain menulis, "Apa yang membuat orang begitu keras kepala? Itu hanya masalah ketidaknyamanan selama beberapa menit, meskipun secara psikologis sulit, tetapi itu tidak terlalu menyakitkan dibandingkan mengusir tetangga di saat bahaya."

Beberapa orang Israel juga bertanya, "Jika suatu saat kita harus bertengkar memperebutkan sekarung tepung, berapa lama rasa superioritas palsu ini akan bertahan?"

Halaman
123
Berita Terkait

Berita Terkini

© 2025 TribunNews.com, a subsidiary of KG Media. All Right Reserved
About Us Help Privacy Policy Terms of Use Contact Us Pedoman Media Siber Redaksi Info iklan