Minggu, 31 Agustus 2025

Konflik Iran Vs Israel

Bau Busuk Limbah Kotoran, Shelter Bom Jadi Rebutan Pemukim Israel: Saling Usir dan Kunci

Warga Israel saling berebutan shelter perlindungan bom saat rudal-rudal Iran menyerang kota-kota utama di Israel. Mereka saling usir dan kunci

khaberni/tangkap layar
BAU BUSUK - Satu di antara lokasi perlindungan bom bagi warga pemukim Israel yang didokumentasikan media lokal, ditangkap layar, Kamis (19/6/2025). Meski bertabur keluhan soal bau busuk dan perawatan minim, lokasi-lokasi shelter bom ini menjadi rebutan warga Israel saat serangan rudal Iran mengganas. 

Sementara yang lain menyatakan kalau fenomena ini tidak terjadi secara terpisah, melainkan meluas di banyak tempat, yang menurut mereka telah mulai menyebabkan keretakan besar dalam masyarakat.

Seorang warga Israel menulis, "Memalukan! Di tempat penampungan kami, kami mengizinkan siapa saja masuk dan meninggalkan pintu terbuka. Tidak semua orang punya tempat penampungan, dan ini harus diperhitungkan. Apa yang terjadi membahayakan nyawa warga Israel. Ini skandal yang nyata."

Perlu dicatat kalau video adegan orang Israel saling mengusir tersebar secara beragam. 

"Video lain menunjukkan seorang gadis Ukraina di Tel Aviv membenarkan bahwa orang Israel mencegahnya dan orang lain memasuki tempat perlindungan selama alarm berbunyi," kata ulasan tersebut.

Rekaman lainnya mendokumentasikan para pemukim menutup pintu tempat penampungan untuk mencegah orang lain masuk, dengan dalih mencegah kepadatan di dalam shelter, di tengah meningkatnya perang militer antara Tel Aviv dan Teheran.

 

 

 

Bau Busuk Penuh Limbah Kotoran

Terkait shelter perlindung bom di Israel, media Yedioth Ahronoth melaporkan, sejumlah penduduk di selatan Tel Aviv telah berlindung di tempat perlindungan bom besar di stasiun bus pusat dengan beragam keluhan.

"Shelter itu dirancang untuk menahan serangan nuklir, namun keluhan tentang kelalaian dan perawatan yang buruk, justru meluas mengingat serangan yang sedang berlangsung terhadap pendudukan Israel," kata laporan tersebut. 

Menurut surat kabar tersebut, pemukim menyatakan ketidakpuasan mereka dengan kondisi di dalam tempat perlindungan tersebut.

Beberapa menggambarkannya sebagai, "tempat yang terabaikan dan tidak layak untuk tempat tinggal jangka panjang," meskipun memiliki fasilitas seperti ruang desinfeksi, tangki air, dan pintu yang diperkuat.

Penduduk lingkungan tersebut, termasuk Safir Omran, menurut terjemahan Khaberni, mengeluh kalau sejumlah tempat perlindungan bom ditutup selama keadaan darurat, diduga karena kekhawatiran akan pencurian.

"Mereka menekankan kalau pihak berwenang harus membukanya dan memberikan instruksi yang jelas dalam beberapa bahasa, termasuk bahasa Ibrani, Arab, dan Amharik, untuk memudahkan akses ke sana pada saat terjadi bahaya," kata laporan tersebut.

Surat kabar itu juga mengutip pernyataan warga dan pengguna fasilitas tersebut, termasuk pemilik usaha dan pengemudi taksi, yang mengatakan, mereka menolak pergi ke tempat penampungan karena bau busuk dan limbah kotoran menyebar di dalamnya.

Halaman
123
Berita Terkait

Berita Terkini

© 2025 TribunNews.com, a subsidiary of KG Media. All Right Reserved
About Us Help Privacy Policy Terms of Use Contact Us Pedoman Media Siber Redaksi Info iklan