5 Populer Internasional: Dugaan Kebocoran Minyak Pulau Kharg - Trump Minta Bantuan China soal Iran
Rangkuman berita populer internasional, di antaranya citra satelit menunjukkan dugaan tumpahan minyak di Pulau Kharg, namun Iran membantah
Mengutip Al Jazeera, penolakan Trump memicu kekhawatiran bahwa konflik yang telah berlangsung selama 10 minggu itu akan semakin berkepanjangan dan terus mengganggu jalur pengiriman di Selat Hormuz.
Merujuk pada proposal terbaru Iran, Trump mengatakan:
"Gencatan senjata saat ini berada pada titik terlemah setelah saya membaca dokumen sampah yang mereka kirimkan kepada kami."
"Saya bahkan belum selesai membacanya."
"Situasinya kritis."
Beberapa hari setelah AS mengajukan proposal yang bertujuan membuka kembali negosiasi, pada Minggu (10/5/2026), Iran merilis tanggapan yang berfokus pada penghentian perang di seluruh front, termasuk di Lebanon, tempat sekutu AS, Israel, memerangi pejuang Hizbullah yang didukung Iran.
Iran juga menuntut kompensasi atas kerusakan akibat perang, menegaskan kedaulatannya atas Selat Hormuz, meminta Amerika Serikat mengakhiri blokade angkatan laut, menjamin tidak ada serangan lanjutan, mencabut sanksi, serta menghapus larangan penjualan minyak Iran.
Juru bicara Kementerian Luar Negeri Iran, Esmaeil Baghaei, membela usulan tersebut dengan mengatakan bahwa tuntutan Iran merupakan hal yang wajar.
"Satu-satunya yang kami tuntut adalah hak-hak sah Iran," kata Baghaei pada Senin.
Dalam unggahan di X pada Selasa (12/5/2026), negosiator utama Iran dan Ketua Parlemen Mohammad Bagher Ghalibaf, menyatakan bahwa Iran siap menghadapi segala kemungkinan.
"Angkatan bersenjata kami siap memberikan respons setimpal terhadap setiap agresi. Strategi dan keputusan yang keliru akan selalu menghasilkan konsekuensi yang keliru—seluruh dunia telah menyadari hal ini.
Kami siap menghadapi semua kemungkinan; mereka akan terkejut," tulisnya.
4. UEA Habis Kesabaran, Serang Balik Iran: Bom Kilang Minyak Teheran di Pulau Lavan
Terus-terusan menjadi sasaran serangan Iran dengan dalih sekutu aktif Amerika Serikat (AS) di kawasan sepertinya membuat Uni Emirat Arab jengah.
Jika selama ini UEA hanya bersikap pasif dengan hanya menangkis serangan-serangan Iran, satu di antara negara kerajaan di Teluk ini tampaknya mulai melakukan serangan balasan.