Epidemiolog Sebut Influenza A H3N2 Subklade K Lebih Mudah Menular, Bukan Virus Baru
H3N2 merupakan sub-tipe influenza A yang secara historis dikenal paling dinamis secara genetik dan kerap mendominasi musim flu global.
Ringkasan Berita:
- Varian influenza A H3N2 subklade K lebih mudah menular dan menyebar lintas negara, tetapi bukan virus baru dan tidak lebih mematikan.
- Subklade ini muncul akibat mutasi kecil (antigenic drift) yang membuat virus lebih mampu menghindari kekebalan dari infeksi atau vaksin sebelumnya.
- Peningkatan rawat inap terjadi karena banyaknya kasus, sementara pencegahan tetap mengandalkan vaksinasi dan perilaku hidup bersih.
TRIBUNNEWS.COM, JAKARTA – Varian influenza A H3N2 subklade K menjadi perhatian dalam musim flu global karena penyebarannya yang luas lintas negara.
Meski disebut lebih mudah menular, nyatanya subklade ini bukan virus baru dan tidak terbukti lebih mematikan dibandingkan varian H3N2 sebelumnya.
Epidemiolog dan pakar kesehatan lingkungan global, Dr. Dicky Budiman, menjelaskan bahwa H3N2 merupakan sub-tipe influenza A yang secara historis dikenal paling dinamis secara genetik dan kerap mendominasi musim flu global.
Baca juga: Lonjakan Kasus Flu Varian Baru Terjadi di AS, Kemenkes Ungkap Situasi Influenza di Indonesia
“Influenza A atau khususnya H3N2 varian adalah salah satu sub-tipe virus influenza A yang secara historis dikenal paling dinamis secara genetik dan sering mendominasi musim flu global,” ujar Dicky Budiman pada Tribunnews, Kamis (18/12/2025).
Ia menjelaskan subklade K, yang juga dikenal sebagai H3N2 clade 3C2A1B, merupakan hasil dari proses antigenic drift, yaitu akumulasi mutasi kecil.
Namun bermakna pada gen hemaglutinin (HA), khususnya pada lokasi pengenalan antibodi.
Menurut Dicky, secara virologis subklade K bukan virus baru dan bukan pula hasil dari reassortment besar.
Varian ini merupakan bentuk evolusi adaptif dari H3N2 yang membuat virus lebih gesit dalam menghindari imunitas populasi.
“Mutasi pada sub-clade K ini membuat si virus flu ini lebih mampu menghindari antibody hasil infeksi atau vaksin sebelumnya dan dia memiliki keunggulan transmisi, jadi lebih mudah menginfeksi,” jelasnya.
Meski memiliki kemampuan penularan yang lebih tinggi, Dicky menegaskan tidak ada bukti ilmiah yang menunjukkan bahwa subklade K memiliki virulensi intrinsik yang lebih tinggi atau lebih mematikan.
Baca juga: Influenza Jangan Dianggap Remeh, Bisa Berdampak ke Otak
Berdasarkan data epidemiologi klinis dari berbagai negara dengan sistem surveilans yang kuat, seperti Amerika Utara dan Eropa, mayoritas kasus menunjukkan gejala ringan hingga sedang.
Gejala yang muncul tetap khas influenza, seperti demam tinggi mendadak, nyeri otot, batuk, nyeri tenggorokan, dan kelelahan berat.
Risiko keparahan tetap lebih tinggi pada kelompok rentan, termasuk lansia di atas 65 tahun, anak kecil, ibu hamil, serta individu dengan penyakit penyerta seperti penyakit jantung, diabetes, penyakit paru, atau gangguan sistem imun.
Dicky menjelaskan bahwa peningkatan angka rawat inap yang terjadi di sejumlah negara lebih disebabkan oleh tingginya jumlah infeksi, bukan karena peningkatan keganasan virus.
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/tribunnews/foto/bank/originals/virus-influenza.jpg)