Selasa, 28 April 2026

IHSG Naik tapi Rupiah Melemah, Begini Penjelasan Ekonom Bank Permata

Josua Pardede mengatakan kenaikan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) di tengah rupiah yang melemah bukan merupakan fenomena yang aneh

Tayang:
TRIBUNNEWS/IRWAN RISMAWAN
Pada perdagangan Selasa (20/1/2026) sore, rupiah ditutup melemah tipis satu poin dari Rp 16.956 per dolar Amerika Serikat (AS) dari Rp 16.955. 
Ringkasan Berita:
  • IHSG lebih banyak merefleksikan prospek laba perusahaan, likuiditas di dalam negeri, dan selera investor terhadap saham
  • Kebijakan likuiditas yang membuat suku bunga pasar uang jangka pendek lebih turun biasanya lebih cepat mendukung pasar saham daripada menguatkan rupiah

 

TRIBUNNEWS.COM, JAKARTA - Kepala Ekonom Bank Permata Josua Pardede mengatakan kenaikan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) di tengah rupiah yang melemah bukan merupakan fenomena yang aneh.

Pada perdagangan Selasa (20/1/2026) sore, rupiah ditutup melemah tipis satu poin dari Rp 16.956 per dolar Amerika Serikat (AS) dari Rp 16.955.

Sementara itu, pada hari yang sama, IHSG ditutup di level 9.134, menguat 0,82 poin atau naik 0,01 persen dari perdagangan sebelumnya.

Baca juga: Pelemahan Rupiah Makin Dalam, Ini Ngaruhnya ke Dompet Masyarakat

"Fenomena IHSG menguat sementara rupiah melemah itu bisa terjadi dan bukan hal yang aneh karena keduanya digerakkan oleh faktor yang berbeda," kata Josua kepada Tribunnews, dikutip Rabu (21/1/2026).

Josua menjelaskan, IHSG lebih banyak merefleksikan prospek laba perusahaan, likuiditas di dalam negeri, dan selera investor terhadap saham.

Sementara itu, rupiah sangat sensitif terhadap keluar-masuk valas harian untuk kebutuhan impor, pembayaran utang dan bunga, repatriasi dividen, serta arus dana asing di pasar surat utang dan valas.

"Jadi, saat aliran dana dan sentimen di pasar saham sedang positif, rupiah tetap bisa tertekan bila kebutuhan valas dan arus keluarnya lebih besar dari pasokannya," ujar Josua.

Dalam sejarah pasar, kata Josua, hubungan IHSG dan rupiah juga tidak selalu searah.

Ada fase keduanya sama-sama menguat, sama-sama melemah, dan ada fase berlawanan seperti sekarang ketika sumber penggeraknya tidak sinkron.

Baca juga: IHSG Dibuka Melemah ke Level  9.094, Ada 496 Saham Tersungkur ke Zona Merah

"Penyebabnya biasanya campuran faktor global dan domestik, tetapi dalam episode rupiah melemah saat saham menguat, sering kali pemicunya lebih kuat di sisi valas dan surat utang," ujar Josua.

Global dan Domestik

Dari sisi global, saat ketidakpastian meningkat, pelaku pasar disebut cenderung mengurangi posisi di aset berisiko dan menambah aset yang dianggap aman.

Hal itu mendorong pergeseran dana lintas negara dan bisa menekan mata uang negara berkembang, meski bursa saham lokal masih ditopang investor domestik.

Pada Januari 2026, sentimen global juga dipengaruhi isu tarif dan ketegangan geopolitik yang mendorong lonjakan emas serta perubahan cepat preferensi aset, yang tercermin pada pergerakan dolar dan mata uang Asia.

Dari sisi domestik, rupiah bisa tertekan bila pasar melihat risiko fiskal membesar, kebutuhan pembiayaan pemerintah naik, atau pasokan valas dari eksportir melambat.

Selain itu, juga bisa karena skenario pelebaran defisit dan risiko suplai surat utang yang lebih tinggi, serta potensi berkurangnya pasokan valas jangka pendek karena pengetatan atau perubahan ketentuan devisa hasil ekspor yang bisa menahan konversi valas ke rupiah.

Pada saat yang sama, saham justru bisa menguat karena ada dorongan likuiditas dan ekspektasi pertumbuhan, ditambah efek rupiah yang lebih lemah terhadap emiten tertentu.

Contohnya seperti perusahaan berorientasi ekspor atau berbasis komoditas sering terlihat labanya lebih besar dalam rupiah, sehingga minat investor ke sahamnya naik dan ikut mengangkat indeks.

Baca juga: Rupiah Kembali Melemah Setelah Sempat Menguat Tipis di Level Rp 16.953 per Dolar AS

Selain itu, kebijakan likuiditas yang membuat suku bunga pasar uang jangka pendek lebih turun biasanya lebih cepat mendukung pasar saham daripada menguatkan rupiah.

Hal itu dikarenakan penurunan imbal hasil rupiah justru bisa mengurangi daya tarik parkir dana asing di instrumen rupiah.

"Pola tersebut bisa bertahan cukup lama bila sumber tekanan rupiah belum berubah," ucap Josua.

Cara Agar IHSG dan Rupiah Bisa Sama-sama Menguat

Menurut dia, agar rupiah dan IHSG kembali selaras menguat, biasanya dibutuhkan kombinasi yang jelas.

Pertama, pasokan valas membaik, contohnya seperti surplus dagang kembali melebar dan konversi valas eksportir lebih lancar.

Kedua, persepsi risiko fiskal menurun. Ketiga, kondisi global lebih tenang, sehingga dana asing tidak terlalu merepatriasi likuiditas valasnya.

Jika tiga hal itu terjadi, rupiah punya ruang pulih tanpa harus mengorbankan penguatan IHSG.

Sebab, penguatan rupiah juga menurunkan tekanan biaya impor dan memberi napas pada daya beli, yang pada akhirnya juga baik untuk saham. 

Sumber: Tribunnews.com
Rekomendasi untuk Anda

BizzInsight

Berita Terkini

© 2026 TribunNews.com, a subsidiary of KG Media. All Right Reserved