Jumat, 29 Agustus 2025

Ibadah Haji 2025

Kemenkes: Persiapan Kesehatan bagi Jemaah Haji Lansia Perlu Dukungan Keluarga dan KBIH

Jemah lansia atau lanjut usia selama ibadah haji menghadapi risiko kesehatan yang tinggi.

dok Garuda Indonesia
Pada Sabtu (22/6/2024), yang merupakan hari pertama pelaksanaan Fase Pemulangan Haji 1445/2024, Garuda Indonesia menerbangkan sedikitnya 3.300 jemaah haji untuk kembali ke Indonesia. 

Laporan wartawan Tribunnews.com, Rina Ayu

TRIBUNNEWS.COM, JAKARTA – Direktur Pelayanan Kesehatan Kelompok Rentan Kementerian Kesehatan (Kemenkes RI) Imran Pambudi menyebut, jemah lansia atau lanjut usia selama ibadah haji menghadapi risiko kesehatan yang tinggi.

Keluarga dan Kelompok Bimbingan Ibadah Haji (KBIH) berperan penting dalam memberikan pendampingan dan memastikan lansia mendapatkan fasilitas yang sesuai dengan kebutuhan mereka, mengatur jadwal ibadah yang fleksibel dan tidak terlalu melelahkan maupun melakukan persiapan khusus bagi Jemaah.

Baca juga: Tips Berhaji Sehat! Hindari Masalah Kesehatan yang Terjadi saat Rukun Haji, Mulai Tawaf hingga Wukuf

“Melalui dukungan keluarga, KBIH, dan pemerintah, serta persiapan kesehatan yang matang, lansia dapat melaksanakan ibadah haji dengan tenang dan khusyuk. Semoga upaya bersama ini dapat memberikan pengalaman haji yang berkesan bagi para lansia,” tutur dia di Jakarta, Senin (28/4/2025).

Diketahui, pemberangkatan haji pertama pada tahun 2025 dari Indonesia dijadwalkan pada tanggal 2 Mei 2025.

Apa Saja Risiko Kesehatan Lansia saat Ibadah Haji?

Berdasarkan data Kementerian Kesehatan, sekitar 44 persen jemaah haji Indonesia pada tahun 2023 berusia di atas 60 tahun dengan mayoritas memiliki penyakit penyerta seperti hipertensi, diabetes, dan penyakit jantung.

“Penyakit jantung menyumbang hampir 38 persen dari total kematian jemaah haji, dengan mayoritas korban berasal dari kelompok lansia,” tutur dr Imran.

Penyakit jantung koroner dan serangan jantung, adalah satu penyebab kematian terbanyak di kalangan jemaah haji lansia.

Serangan jantung sering terjadi akibat kelelahan, aktivitas fisik berlebih, dan paparan kondisi ekstrim seperti cuaca yang panas serta dehidrasi.

Selain itu, infeksi saluran pernapasan seperti pneumonia merupakan kondisi kritis yang harus diawasi dengan ketat karena sistem kekebalan yang menurun pada lansia.

Baca juga: Jemaah Haji Lansia dan Risiko Tinggi Boleh Tanazul atau Dipulangkan Lebih Dulu, Ini Mekanismenya

Pencegahan serta manajemen penyakit ini memerlukan perhatian serius dari pihak penyelenggara haji dan otoritas kesehatan, melalui skrining yang ketat, penyediaan fasilitas kesehatan yang memadai, dan pendampingan selama pelaksanaan ibadah haji.

Lansia cenderung memiliki sistem kekebalan tubuh yang menurun, sehingga mereka rentan terhadap infeksi saluran pernapasan. Pneumonia dan Infeksi Saluran Pernapasan Akut (ISPA) merupakan dua kondisi yang sering terjadi dan dapat berakibat fatal.

“Perubahan imunitas akibat proses penuaan serta keberadaan penyakit penyerta seperti diabetes dan penyakit jantung semakin memperburuk kondisi tersebut,” tutur dia.

Selain penyakit jantung dan infeksi paru, lansia yang memiliki riwayat penyakit kronis seperti hipertensi, diabetes, dan gangguan kolesterol juga berisiko mengalami stroke atau komplikasi lain yang dapat berujung fatal.

Sekitar 73 persen jemaah haji pada periode tertentu diketahui memiliki penyakit penyerta, yang mana kombinasi dari kondisi tersebut dapat memicu gangguan akut seperti stroke atau kerusakan organ lainnya.

Halaman
12
Berita Terkait

Berita Terkini

© 2025 TribunNews.com, a subsidiary of KG Media. All Right Reserved
About Us Help Privacy Policy Terms of Use Contact Us Pedoman Media Siber Redaksi Info iklan