Virus Nipah Kembali Jadi Sorotan Global, Ini Alasan Dunia Perlu Kembali Waspada
Meski tak menyebar luas, Nipah tetap diawasi ketat karena berpotensi menimbulkan krisis kesehatan serius jika terlambat deteksi dan respons.
Ringkasan Berita:
- Wabah Nipah bukanlah fenomena baru
- Namun, perhatian dunia kembali tertuju pada Nipah karena kombinasi antara angka kematian yang tinggi dan ketiadaan vaksin maupun obat spesifik
- Selain India, Bangladesh juga menjadi wilayah endemik Nipah dengan pola musiman yang relatif konsisten setiap tahun, terutama pada periode Desember hingga April
TRIBUNNEWS.COM, JAKARTA - Nama virus Nipah kembali mencuat dan menjadi sorotan global.
Virus zoonosis mematikan ini dilaporkan kembali muncul dalam sejumlah kejadian di Asia Selatan dan Asia Tenggara, memicu kewaspadaan internasional, meski penyebarannya masih bersifat lokal.
Epidemiolog dan pakar kesehatan masyarakat Dicky Budiman menjelaskan bahwa perhatian dunia kembali tertuju pada Nipah karena kombinasi antara angka kematian yang tinggi dan ketiadaan vaksin maupun obat spesifik.
Baca juga: Virus Nipah Kembali Muncul di India, Tingkat Kematiannya Tinggi, Begini Cara Penularannya
“WHO (Organisasi Kesehatan Dunia) melaporkan ratusan kasus ya sejak 2001 loh sudah cukup lama ya 20 tahunan lebih. Imgat ya Nipah virus ini case fatality rate-nya atau angka kematiannya bisa sampai 70 persen artinya 7 dari 10 yang terinfeksi yang meninggal,"ungkap Dicky pada keterangannya, Senin (26/1/2026).
Sering Muncul Kembali di Wilayah yang Sama
Dicky menjelaskan, secara epidemiologi, wabah Nipah bukanlah fenomena baru. India, khususnya wilayah Kerala, disebut sebagai daerah yang berulang kali melaporkan kasus sejak 2018 hingga awal 2026.
Kondisi lingkungan, sanitasi, kepadatan penduduk, serta interaksi manusia dengan hewan menjadi faktor penting yang membuat wilayah tertentu rentan terhadap wabah zoonosis.
Selain India, Bangladesh juga menjadi wilayah endemik Nipah dengan pola musiman yang relatif konsisten setiap tahun, terutama pada periode Desember hingga April.
Angka Kematian Tinggi Jadi Alarm Dunia
Yang membuat Nipah menjadi perhatian serius global adalah tingkat fatalitasnya yang sangat tinggi dibanding banyak penyakit infeksi lainnya.
“Case fatality rate itu paling rendah itu 40 persen paling tinggi 75 persen artinya kalau paling rendah ya 4 dari 10 meninggal atau 7 dari 10 atau bisa sampai 8. Ini tergantung kecepatan respon," imbuhnya.
Menurut Dicky, kematian sering terjadi dalam beberapa hari setelah gejala berat muncul.
Terutama pada kasus yang berkembang menjadi gangguan pernapasan dan radang otak.
Belum Ada Vaksin dan Obat Spesifik
Hingga saat ini, belum tersedia vaksin maupun terapi antivirus khusus untuk Nipah.
Penanganan medis masih bersifat suportif, termasuk perawatan intensif di rumah sakit jika kondisi pasien memburuk.
Kondisi inilah yang membuat Nipah tetap masuk dalam daftar patogen prioritas peringatan global, meski wabahnya tidak meluas secara masif.
Meski tidak menyebar luas, Nipah tetap diawasi ketat karena berpotensi menimbulkan krisis kesehatan serius jika terjadi keterlambatan deteksi dan respons.
“Virus Nipah ini tetap jadi perhatian epidemiologi global karena case fatality rate yang tinggi dan zoonosis yang serius,"pungkasnya.
(Tribunnews.com/ Aisyah Nursyamsi)
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/tribunnews/foto/bank/originals/dicky-budiman-93849.jpg)